It's Mutiara's style !

my power, my pleasure, my pain…

Begini loh…

Jujur, sekarang saya lagi sedih. Sedih banget.

Dan kali ini kesedihan saya itu bukan seperti biasa, karena nilai, uang jajan, dimarahin ortu, atau sebab2 lainnya yang biasa saya alami.

Sekarang saya sedih dengan sesuatu yang sedari dulu saya persetankan: POLITIK.

Kenapa??Yah, apalagi kalau bukan karena berita2 yang lagi happened banget sekarang ini.  Entah kenapa setelah pilpres 2009 dengan kemenangan SBY dengan prosentase konstituen 60% dari total partisipan pilpres, badai2 politik terus bikin panas negara ini. Beda banget dengan tahun 2004. Dulu itu emang banyak banget bencana alam yang rasanya sebagai welcoming snack buat pak SBY dan JK. Sekarang welcoming snack nya berubah menu. Diganti sama yang murahan: skandal politik, kriminalisasi, guncangan koalisi, dll. dan oh, ya, sebenarnya masih banyak bencana alam di negara ini, tapi siapalah kita yang sanggup menghalangi kemurkaan alam. …Come and see…

Pertama, mari kita lihat KPK. Penahanan 2 wakil ketuanya, pak Bibit dan Pak Chandra dengan tduhan penyalahgunaan wewenang yang anehnya ada perundang2annya(!). Pdahal beliau2 itu rajin loh datang pas ada pemeriksaan oleh Polri. Diperiksa, diinvestigasi, bla bla bla, eh ujug2 ditahan aja, padahal saat itu semua masih ambigu! Haloooo, apa kabar dengan praduga tak bersalah? Apa pula itu????!!!! Untunglah masyarakat Indonesia jeli melihat kongkalingkong ini. Dukungan mengalir dimana2 sehingga kedua pimpinan KPK itu akhirnya berhasil dibebaskan dan kembali ke pekerjaan mereka di KPK. So, tinggalah pak Antasari sendirian di penjara. Nah, di sini konon ada selentingan konspirasi juga. Is that true? Tapi kalau pun ada yang bisa disyukuri dari peristiwa penahanan pak AA ini, adalah tuduhannya yang bukan kasus korupsi. Bayangkan tagline di koran nanti : Ketua KPK Ditahan Karena Kasus Korupsi.

Aduh…..bisa migrain berminggu2 deh!

Next, bagai antrian check up ke dokter, sekarang adalah nomor antrian Wapres RI (pak Boediono) yang layaknya pasangan Bibit-Chandra, sepaket sama  Menteri Keuangan RI (bu Sri Mulyani Indrawati/ SMI). Beliau2 itu diserang dengan tuduhan kasus kucuran dana talangan untuk Bank Century (sekarang bank Mutiara. oh, bukan, bukan itu bukan bank-nya saya kok, hehehe. Kidding!). Kedua reformis itu dituduh melakukan penyalahgunaan KEBIJAKAN dalam pemberian bailout (dana talangan) Century. Kenapa saya bolt kata KEBIJAKAN ?  KArena saya ingin membedakan dengan pemakaian PENCAIRAN maupun PENGGUNAAN, yang sama sekali di luar wewenang pak Bud maupun bu SMI. Nah, kalau KEWAJIBAN yang dipermasalahin, yang 11/12 lah sama politisasi. Kayak pulpen sama tintanya. dari sinilah saya merasa bahwa pemolitisasian kasus bailout Century itu benar adanya. Karena menurut saya, kalau kriminalisasi, ya yang didiagnosa si cara2 pencairan dan penggunaan dana itu. Dan hal ini sudah ada tindakannya, yaitu dengan ditahannya Mr. Robert Tantular.

Next, saya sebenernya sebelum ini juga ga tau2 amat dengan kasus BC (Bank Century). Masih ngebayang2 gitu lah. Mirip dengan yang saya rasakan pas keliling2 kantor dosen minta2 judul TA. Semua ngambang!Arggghh!!! Oke, kembali lagi ke BC. Sekarang, saya sih sudah cukup mengerti lah., walau memang gak bisa disebut ahli dalam kasus BC ini, apalgi dengan membaca kaskus (hoho), koran2 internet, dan mendengar pidato SBY (kya, kya!). Dan dari sini saya punya kesimpulan:

-pak Bud dan bu SMI adalah orang2 “outstanding” di bidangnya yang saat itu paling bertanggung jawab dalam membuat kebijakan bailout(Ini sih emang ga bisa disangkal).

-pak Bud dan bu SMI adalah orang2 non partai yang reformis birokrasi, recordnya bersih dari korupsi, dan sekarang incumbent di KIB II (yuuuukkkkk)

-keduanya punya musuh dimana2. Kenapa oh kenapa, ya karena tidak lain kebijakan2 (terutama bu SMI) yang ekstrem bagi beberapa pihak sperti pemecatan atau penurunan pangkat pejabat korup di depkeu, penaikan pajak untuk bbrp barang2 mewah (yang bikin sang ketum Golkar mencak2), sampai penolakan pembayaran ganti rugi lumpur Lapindo oleh negara( jadi ceritanya nyuruh AB buat bayar pake duitnya sendiri. Ya iyalah! enak aja dia salah, kok pajak ortu gue yang dilibas?) . Dan you know what? Itu teh menyelamatkan negara samapai beratus2 triliunnnnnnnn (gile, bisa berapa kali bayarin saya smaa adek saya sekolah tuh ? hoho)

- bailout ini cuman PINJAMAN. sekali lagi PINJAMAN, bukan HIBAH. Nah, bagaimana kalau tahun 2008 itu BC ditutup ajah? Ini dia:  negara hasus mengHIBAHkan 460-an  M (CMIIW) buat ganti rugi uang nasabah. efek sampingnya: karyawan century dipecat, uang negara kepake lagi., utang2 BC tetep ada di insitusi keuangan lain, eniwei, makin banyak yang diPHK deh. Gak asik banget kan tuh? Nah, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kabar2nya 3 besar di DUNIA (setelah China dan Indihe), bukan ga mungkin itu duit 6,7 T itu balik lagi ke kas negara (aminnnn….) apalagi kan Bank Mutiara (Century tempo doeloe) udah jadi milik ato tanggung jawab pemerintah. Yiha!

- Next, dulu tuh yaaa, DPR itu udah ngijinin bail out gitu loh. Ya, kalau dipikir2 ga mungkin lah sesuatu ketentuan yang melibatkan kepeng negara ada tanpa sepengetahuan DPR (kecuali duit korup tentunya). Dan beberapa anggota DPR yang saat itu setuju dengan bail out, duduk lagi kok di DPR). Nah loh! jangan bilang ada yang jilat ludah di sini. Jijay dehhhh.Yeww..

- Nah, nah, sekarang itu semua dipertanyakan lagi. Oke. Pertanyain aja. Gratis ini. eh, gak ding. Pake fee 4 M, langsung dibayar ke pansus yaaa.hihi. Ampun deh, dosen saya yang udah jadi guru besar emeritus dan profesional  di bidang2nya masing2 aja gak minta2 uang pas kita2 mahasiswa cupu ini nanya 1+1 berapa (haha, becanda ding. if you know what i mean..) Eh, malah keputusan akhirnya adalah jreng jreng, dibawanya kasus bail out ini ke ranah hukum. Lohhhhhh…antiklimaks banget sih, gan?! Kan pak Bud sama bu SMI udah bilang berani diproses dan dipertanyakan secara hukum. Oh, i see, sekarang lagi diproses secara politik toh. Hm…gitu. baguslah. Cuman buat merealisasikan pertanyaan berani dan tegas aja butuh duit 4 M. Mending beliin saya BB aja deh.hoho. Well, setidaknya, tidak adda impachment presiden dan wapres serta pembuktian itu dana ngucur ke kantong kampanye salah satu pasangan presiden tertentu.

Nah, itulah yang dapat saya simpulkan dengan  baca ini itu all about BC. Sebenernya saya gak minat politik, apalagi basis saya teknik dan selalu diprovokasi dari pembicaraan org2 buat kerja di Exxon, Chevron, atau di mana gitu swasta asing yang bonafid, punya gaji minimal 20.000 USD per tahun dengan kurs sekarang, punya rumah, mobil, motor, laptop, komputer, sandang, pangan, papan dan akhirnya berkeluarga kalau cukup umur, oh ya kalau sempet lanjutin sampai S3 di luar negeri. Aminnnnn.Hiks.  Hindari dunia politik karena keteknikan saya gak bakal nyambung, hindari pns, karena gajinya belum terlalu menggiurkan, cari uang banyak, bantu biaya adek ntar kuliah. Oke, no time for Political chit-chat, you see?

Tapi, gak bisa. Lama kelamaan saya mulai tertarik dengan politik itu, apalagi dengan melihat dagelannya DPR, tersingkirnya orang2 pintar dari politik praktis karena keluguan sebagai orang eksak /hitungan (pak Habibi, bu SMI), dan lain2. Bukan, saya tentu bukan ingin masuk ke politik untuk jadi tim hore hal2 di atas. Justru saya ingin memperbaiki (kalau bisa). KArena menurut saya, politik adalah istilah lain dari organisasi kenegaraan. Masalahnya, saya suka organisasi, walau terkadang tidak terlalu sukses di bidang itu.haha. Eniwei, dari sinilah saya lihat, politik itu sebagai seni memerintah dalam negara. Nah, yang namanya seni itu indah, kan. dan indah itu kebaikan. Deduksinya, politik itu indah (bahkan hati saya masih memberontak kala menuliskan 3 kata terakhir itu :p). Tapi kalau gak lewat politik, gimana caranya mengatur negara ini? Atau udah aja, ini negara didiemin aja Gak usah ada lembaga yudikatif, legislatif, dan eksekutif??? Ya, yang ada separatislah NKRI ini. Apa kata Malaysia nanti.. (loh?) Kalau seperti itu terjadi, yang saya takutin ya…udah aja gak ada negara di dunia ini. wong gak ada yang mau susah payah ngurusin atau setidaknya kritisasi politik ini.

Well, sebenernya gak perlu jadi anggota DPR, MPR atau politisi praktis atau negarawan buat ngurusin politik. JAdi warga negara biasa aja juga bisa kok. Kan pemegang kekuasaan tertinggi kan rakyat. Kita rakyat  kan! Jadi kalau dianalogikan jadinya gini. Kita punya rumah nih. Nah rumah kita itu besaaaarrr dan cantiiikkk banget. Nah, karena kitanya sibuk kuliah, kerja, atau nomat di ciwalk, kita sewa deh pramuwisma buat beres2. Nah, terus pramuwisma ini punya cara nih buat bersihin rumah kita. Celakanya, caranya salah. Nah, kita berhak dong ngasih tau pramuwisma kita dengan bilang gimana caranya yang bener buat bersihin rumah. Nah, itulah yang saya sebut dengan rakyat berpolitik tadi. Kan gak ada ruginya toh. Kita puas, pramuwisma seneng, rumah bersih. Yeah! Nah yang ada, selama ini justru si pramuwismanya yang lebih berkuasa dari kita, tuan rumahnya. Nah, jadi males dong kita ngurusin kerjaan beresin rumah itu. Apalgi kuliah sibuk, kerjaan numpuk, film di Ciwalk lagi seru2,eh ada karaoke yang lagi diskon pula. Pulang2, rumah kita kayak kapal pecah gara2 gak kita kontrol. Terus bisa apa kita. Paling2 nyumpah dan bilang:” Pembokat magabut!!!!!” Nah, jadi runyam kan?

Piss, ah. Bukan mau nyamain siapa2 dengan analogi saya di atas. Cuman dengan otak saya yang perlu banyak belajar ini, itulah yang bisa saya generalisasikan. :D . Eniwei, kita semua dalam tahap belajar, pastinya. Mulai dari buaian hingga liiang kubur. Kesalahan pasti ada, dan saat itulah pembelajaran diperlukan untuk memperbaikinya. Saya, anda, kita semua. Termasuk meong lucu yang saya lihat tadi lagi enak2 tidur di pinggir gang( ok, ini OOT –”).

Dan, sekarang….UTS, UTS! hiks, hiks.

My name is Mutiara and I’m not a provocator ^^

05/03/2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika Ideologi Menjadi Sebuah Pilihan

Di sini saya pengen mencoba membahas satu masalah lagi yang selama ini bercokol di benak saya. Sebenarnya ini udah lama melayang-layang di benak saya. Tapi gak tahu kenapa baru semalam, bom waktunya meletus. Dan saya kepingin banget menulis ledakan itu.

Jadi berawal dari salah satu thread di kask*s. Tentang kehidupan dan gambar2 yang menampilkan aktivitas sehari2 rakyat Korea Utara. Seperti kita tahu, Korea Utara adalah negara komunis yang bertetangga namun sangat ekstrem perbedannya dengan saudara kandungnya, Korea Selatan. Dari thread dan gambar itu dapat dilihat betapa kehidupan masyarakat Korea Utara yang sepertinya sangat dibatasi oleh pemerintahnya sendiri. Entah kenapa saya tergelitik sekali melihat betapa berbedanya negara itu dengan Korea Selatan yang dikenal lebih terbuka dan kapitalis.

Peta dan Bendera Kore Utara

Lalu saya ke UKM (Unit Kesenian Minangkabau). Di sana saya membaca sebuah majalah National geography terbitan lama. Dari sebanyak itu majalah yang ada di sekre, tangan saya random memilih satu majalah yang di dalamnya ternyata ada artikel mengenai pengungsi Korea Utara yang ingin emigrasi dari negara mereka. Kebanyakan tujuan akhir mereka adalah Jepang atau negara tetangga, yaitu Korea Selatan. Seperti kita tahu, Korea Utara dan Selatan saling bertetanggaan langsung. Namun para pengungsi itu harus memutar rute mereka hingga ke China, Asia tenggara, baru ke Korea Selatan. Kenapa? Karena mereka menghindari penjagaan super ketat di perbatasan Korea Utara. Tak jarang para emigran itu harus melewati hutan, gunung dan rawa. Mereka harus menyediakan uang yang banyak untuk bekal di perjalanan. Yang ironisnya, belum tentu mereka akan tiba di tujuan dengan selamat. Banyak ancaman yang mengintai mereka selama di perjalanan. Seperti petugas perbatasan, binatang liar, cuaca, penyakit, pengkhianat, dan sebagainya. Jadi mereka sebenarnya tidak hanya mempertaruhkan uang mereka selama perjalanan itu. Tapi juga nyawa mereka. Luar biasa. Saya miris melihat ini. Sebegitu inginnyakah mereka keluar dari tanah air mereka sendiri hingga mereka mau mempertaruhkan segalanya?

Lagipula jika anda sudah menjadi emigran gelap di Korea Utara, menurut artikel itu, tak ada jalan untuk kembali kecuali penjara plus siksaan-siksaannya. Apa itu saja? Oh, tidak. Keluarga Anda pun akan dapat bonus. Ini seperti menaiki gunung terjal. Terus mendaki ke atas dengan mengeluarkan seluruh tenaga atau jatuh berguling-guling ke bawah di mana batu-batu cadas super tajam sudah menunggu.

Saya semakin tertarik dengan kehidupan di negara komunis ini. Karena seperti dua sisi mata uang, ada saja yang merasa kehidupan berkomunis cocok untuk dirinya. Saya juga membaca, di jalanan Korea Utara yang sepi namun lebar itu (karena jumlah mobil dibatasi), cukup banyak BMW dan mobil impor yahud lainnya berseliweran, sementara dari berita yang saya dapat dari salah seorang sahabat cyber saya dari KorSel, bahkan pihak Korsel harus mengirimkan bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatn untuk saudara2 mereka yang kelaparan di sana.

Lalu setelah Korut saya melirik negara komunis lain, yang terkenal karena ekonomi dan produknya yang merajai pasaran dunia. China. Membayangkan China mungkin tak sedikit dari kita yang membayangkan negeri berhawa dingin nun jauh di sana yang terkenal dengan peradaban kunonya yang tak terlupakan, dunia medisnya yang manjur dan terpercaya, Orang-orangnya yang gemar merantau dan sukses di berbagai negara serta perekonomiannya yang melejit bagai roket. Ya, itulah China. Negeri tirai bambu yang setia pada paham komunisnya tapi selalu menjadi langganan partner ekonomi berbagai negara, termasuk AS dan Eropa Barat. Namun bagaimana sebenarnya kehidupan rakyat di sana? Apa mereka cukup bangga?

Great Wall of China

Yah, sekali lagi berdasarkan info yang saya dapat dari sahabat cyber saya yang berasal dari Sichuan, Guang Dong, Shanghai, Hongkong, sepertinya mereka terlalu letih untuk berbangga dengan apa yang negeri mereka lakukan sejauh ini. Yang masih duduk di bangku sekolah mengaku dirinya tertekan dengan tekanan pelajaran dan silabus yang diberikan pihak sekolah. Merek begitu digebah untuk menjadi orang pintar dan berprestasi, bahkan sejak SD. Yang kuliah juga  11/12. Yang menjadi pekerja merasa dirinya hampir pingsan dengan jadwal kerja yang menurutnya gila-gilaan. Bahkan dari yang saya lihat, mereka cenderung pesimis dengan negerinya sendiri. Karena mereka selalu bertanya, baik secara eksplisit maupun implisit kepada saya: “Apakah anda benci dengan China?” Yang selalu saya jawab dengan “Tidak”. Sebenarnya pertanyaan serupa juga sering saya dapati dari penduduk si negara “super-power” yang sedang kesakitan AS. Saya selalu menjawab dengan jawaban saya yang sama. Dan itu jujur dari hati saya.

NAh, opini mulai terbentuk di benak saya. Terutama tentang kehidupan berideologi komunis ini. Tak pelak saya mulai miris melihat rakyat jelata di negara komunis, dan mulai bersyukur dengan negeri saya yang terkadang membuat saya senewen sendiri ini, Indonesia. Paling tidak di sini, facebook tidak dilarang. Semua situs boleh dibuka. Saya tak perlu ke ruang belajar rakyat untuk menonton tivi atau mengakses internet. Semua mobil bisa lewat pada jam berapapun. Dan yang paling penting, kebebasan kami untuk berpendapat tidak dikekang, dan kami berhak mencari penghidupan yang lebih baik dan menjadi emigran ke negara mana pun yang kita inginkan. Saya cinta demokrasi pancasila ini.

Nah, itulah opini saya tentang negara komunis. Namun ternyata , datang lagi suat peristiwa yang memperkaya khasanah saya dan melatih saya untuk melihat dunia dari berbagai sisi. Di tengah keruwetan tugas dan ujian, saya kembali mengunjungi situs chatting global sekedar iseng2 pengusir bosan. Kembali, di situs ini saya chatting dengan seorang anonimus. Pertama percakapan kami berlangsung seperti biasa. penuh basa basi. Dari awal saya tahu saya tidak berbicara dengan orang sembarangan. Dia bisa menerka negara saya setelah menebak China, Korea, dan India. Rupanya dia melihat dari bahasa inggris saya yang seadanya.hehhe..

Sebetulnya saya agak tersinggung, karena biasanya orang menyangka saya dari AS atau Inggris. Tapi rupanya si N ini (kita sebut saja begitu), bisa melihat kekurangan2 fatal dalam bahasa Inggris yang saya gunakan sehingga dia bisa mengira2 bahwa saya tak mungkin berasal dari negara berbahasa Inggris sebagai bahasa ibunya. Jadi, saya katakan kepada dia, Dia bisa menebak saya karena dia sudah begitu sering berbicara dengan orang Asia. Tapi dia bilang dia lebih banyak berbicara dengan orang USA karena situs itu dibuat oleh orang Amrik. Saya membantah. Facebook juga dibuat oleh orang Amrik, tapi toh bukan Amrik konsumen terbesarnya. Nah dari sinilah perdebatan panas kami dimulai. Dari facebook kami berlanjut ke berbagai hal. Selama perdebatan itu, kami tak henti2nya saling mengkritik kekurangan dan kesalahan masing2, mendaraskan copy-paste situs2 referensi dan saling mencaci tanpa mengeluarkan kalimat kotor, tapi mampu membuat ubun2 kami memanas. Kenapa saya tahu dia juga panas? Karena beberapa katanya mulai semakin tajam. Dan kalau sudah begitu saya yang mulai cooling-down. Hahaha. Jadi sepertinya saya sukses menjadi pengatur flow perdebatan kami.

Jadi, siapakah sosok pintar, logis, tegas, namun berdarah panas dan galak ini. Ternyata oh ternyata, dia adalah seorang letnan asal Serbia. God! Betapa kebetulannya. Baru siang tadi saya membaca buku karya Sidney Sheldon berjudul “Best Laid Plan” yang menceritakan perang Serbia-Bosnia di semenanjung Balkan yang berjalan mengerikan dan tidak manusiawi. Saya yang awalnya begitu panas melayani serang2an kritikannya yang judes, mulai menahan diri. Saya berusaha memahami bahwa orang yang berbicara dengan saya adalah seseorang yang telah mengalami cobaan yang berat. Dia melihat keluarga dan teman2nya dibantai. Dia melihat rumah dan kampung halamannya dirusak. Dia mengalami kelaparan dan betapa peluru2 memberondong di atas kepalanya sementara ia melarikan diri mencari tempat perlindungan. Saya berusaha sabar meski cacian2nya yang intelek membuat saya ingin menonjok layar lap top saya dan mencaci dia dengan umpatan paling kasar yang saya tahu. Tapi demi keberlangsungan studi saya dan demi menjaga nama baik bangsa saya sendiri, saya membatalkannya.

Beograd, Serbia

Rencana paling Sempurna- bahkan mungkin gagal di saat2 terakhir..

Saya di lain hal tertarik kembali. Ingatan saya beralih ke artikel2negara komunis itu. Serbia mungkin tidak memproklamirkan diri sebagai negara komunis. Tapi Serbia adalah kawan dan saudara dekat Rusia, si beruang merah. Seberapa dekatnya? Nah kalau saya boleh mengutip perkataan N ini: “Better red than dead”. Oke. got it!

N adalah letnan fresh graduate dari Serbia Navy berumur 23 tahun. Cita2nya melindungi negaranya dan tinggal di Rusia dan secara implisit dia menginginkan komunis menjadi ideologi paling populer di dunia, karena tampaknya dia dendam sekali dengan Amerika dan sekutunya yang sudah meledakkan pabrik kimia di negaranya dan membuat snjata biologis itu menewaskan banyak rakyat yang tak bersalah. N sangat menyanjung Rusia dan mendaraskan kepada saya semua jasa2 Rusia setelah PD II. Betapa Rusia sudah berjasa mengusir Amerika dan Nazi dari tanah China, Jepang dari Tanah Korea, dan akhirnya menyentil Indonesia dengan berkata bahwa Rusia lah yang mengalahkan Jepang sehingga mereka terusir dari negara ini. Saya diamkan dulu saja karena saya benar2 tertarik dengan pandangan baru seseorang yang begitu mencintai komunis seperti mencintai bola matanya sendiri.

Lalu saya bercerita..saya lupa sebab pastinya, tentang PKI, terutama G30S/PKI yang membuat Indonesia melarang aliran komunis di negara ini. Dia muntab dan menuduh saya dicuci otak oleh Amerika tentang paham komunis ini. Dia mencoba membuat saya merasa bersalah dengan mengatakan saya menentang Rusia dan China sebagai negara komunis. dan saya tekankan dengan kesabaran saya yang untunglah masih bersisa banyak. Saya membenci komunis di Indonesia karena apa yang mereka lakukan dengan rakyat Indonesia sendiri. Tidak lebih. Tapi dia terus berusaha memojokkan saya denan mengatakan saya sok tahu dan salah paham dengan apa arti komunis sebenarnya. Ya sudahlah, mas. Bungkus deh!

Perdebatan selanjutnya tak kunjung mendingin. Berputar2 di sekitar situ saja. letnan Serbia yang satu ini begitu cerdas. Namun seringkali saya melihat argumennya bolong2 dan emosional. Sebenarnya saya bukan juga pendebat yang lihai. Namun saya lebih menekankan pada kemanusiaan, sehingga lama kelamaan kami berimbang. dan dia mulai tersudut ketika saya bertanya: “Sebegitu inginnyakah Anda jika saya membenci Amerika?”

Namun, perdebatan itu  berakhir damai setelah dia memilih untuk tidak membahas politik lagi. Namun dari sini saya sudah mendapat banyak masukan. Betapa sesuatu itu punya dua sisi yang berseberangan. Tak selamanya komunis itu dibenci atau dianggap kejam. Saya melihat sendiri betapa seseorang tentara muda rela mengorbankan nyawanya demi supremasi komunis di dunia. Dia fanatik, tapi tak sampai beraliran chauvinisme. Di balik kata2 khas tentaranya yang tegas, tajam dan judes, saya tahu dia cuma sedih karena komunis sepertinya menjadi momok yang menakutkan di kalangan masyarakat2 dunia. Dia merasakan ketakberdayaan karena Rusia lah negara yang peduli ketika Serbia dan negara2 Balkan lainnya teracuni polutan kimia dari pabrik yang meledak. Hanya si beruang merah yang komunis habislah yang membantu mereka. Memberi mereka makanan, tempat tinggal, perlindungan bahkan pekerjaan. Saudara2 N banyak yang berdomisili di Rusia. Dan mereka hidup bahagia di sana. Bahkan saya rasa, saking berterima kasihnya N pada Rusia, dia rela menjadi tentara Rusia tanpa dibayar. Dia sepertinya mengaggumi rusia dan paham komunisnya lebih dari negaranya sendiri. Walau begitu dia tidak mau mengakui Serbia lebih condong berpaham komunis, namun lebih ke sosialis.

Maha suci Allah yang menciptakan manusia dengan keanekaragamannya. Ini membuat kita tidak menjadi lebih cetek dalam memahami dan menerima pemikiran orang lain. Malam hari sebelum ujian ini, saya mendapat pelajaran berharga lagi. Bahwa sebenarnya sesuatu tidaklah seburuk yang kita bayangkan, andai saja kita mau mengenal lebih dekat.

Regards, Mutiara

I L I

16/12/2009 Posted by | Happening | 8 Komentar

Seni menulis bagiku…

Betapa mudahnya menulis.

betapa susahnya menulis.

Dan saya baru sadar itu tergantung informasi dan pengetahuan yang tersimpan dalam kepala kita. lalu selanjutnya adalah teknik dan seni menuangkan itu semua dalam rangkaian kata.

Contohnya, beberapa orang dengan mudahnya menulis di diary mereka, karena orang itu tahu benar apa yang terjadi pada dirinya.

Beberapa orang dengan mudahnya nge-blog, nge-tweet, nge-note di fb setiap hari, bahkan selang beberapa jam saja, karena mereka tau benar apa yang akan mereka tulis.

Betapa beruntungnya orang seperti itu. Betapa beruntungnya wartawan, penulis, penyair, atau ahli2 merangkai kata lainnya. Karena paling tidak mereka bisa menuangkan perasaan di dalamnya.

Namun, betapa sialnya, seseorang mahasiswa, misalnya seperti saya, yang ketika ujian tidak punya cukup pengetahuan untuk menulis apa pun, hingga turunlah jurus pamungkas: ngarang.

Kalau dipikir2 memang gampang saja menulis rangkaian jawaban di kertas ujian jika kita mengerti benar maksud pertanyaannya dan lebih tahu lagi bagaimana menjawabnya.

Ujian, oh, ujian. Ternyata tak lebih dari seni menulis, yang terkadang menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang, saat ketika menulis menjadi sesuatu yang sulit dilakukan…hiks.hiks.

26/10/2009 Posted by | uneg-uneg hidup | 5 Komentar

How old are you?

Lagi pingin ngomentarin manusia2 di sekitar saya nih.hehe. Habisnya saya liat mereka itu lucu2 banget. Itu mungkin ya, yang menyebabkan saya jadi hobi banget ketawa-ketiwi.

Saya sering merasa terkagum2 sendiri, betapa mencoloknya perbedaan umur jika kita belum terjun dan berdikari di masyarakat. Contohnya aja ya, saat kita masih sekolah atau kuliah. Perbedaan satu tahun atau satu tingkat itu keliatan banget. Padahal cuma beda setahun, gitu! Maka bertebaranlah panggilan kakak, abang, uda, uni, teteh, akang, mas, mbak. Aura senioritas dan junioritas terasa kental namun tidak mengikat. Lalu, perbedaan setahun aja keliatan banget, apalagi perbedaan 3 tahun. Ya, sekarang saya disebut ‘ swasta’ di unit saya UKM (unit kesenian minangkabau).

Swasta itu bukannya saya pindah kuliah ke swasta. Tapi lebih merujuk kepada status saya yang sudah lagi tidak sebagai anggota aktif di keorganisasian. Kasarnya, kerjaan saya sudah habis di unit saya dan tinggal menikmati hari tua sambil membantu pengurus2 yang masih aktif dengan pikiran dan seedikit tenaga.

Nah, kembali ke topik, ada guyonan lucu di antara kami para swasta, yaitu saling menghina umur, angkatan dan semester masing. Tentu saja guyonan itu tidak menyakitkan karena hanya dilakukan di kalangan internal saja. Tapi saya menganggap ini sebagai suatu fenomena yang menarik di kalangan mahasiswa.

Guyonan itu kadang membuat kita sok tua. Misalnya. Para alumni kami yang telah lulus, dan berumur sekiter 22-25 tahun, sering dianggap om dan tante. senior saya , bahkan meminta kami memanggil mereka om dan seus. Bahkan ada pula yang dipanggil bapak pembina atau bapak sanggar. Sebuah permintaan yang membuat kami tertawa geli. LAlu juga ada guyonan lucu seperti pengkamuflasean angkatan. Misalnya, si A dikatakan sebagai angkatan 87, bukannya 2005, misalnya, karena ia lahir tahun 87 dan sekarang sudah senior. Lalu pernah ada yang berkata, “Saya angkatan 2010, loh…”. Padahal sebetulnya dia angkatan 2006, misalnya. Yang biasanya direspon dengan,” Iya, wisudanya.”hehe

Entah kenapa perbedaan umur menjadi bahan guyonan favorit di antara mahasiswa2 yang saya kenal. Menurut saya ini lucu sekali, karena yang seperti ini hanya ada saat kita kuliah. Saya lihat, begitu terrjun di masyarakat, perbedaan umur kebanyakan tidak terlalu diperhatikan lagi. Misalnya di kantor. Seorang bapak berumur 50 an misalnya, bisa saja memanggil “Bapak” juga dengan penuh rasa hormat kepada atasannya, yang mungkin berumur 10 tahun lebih muda. Di masyarakat, sepertinya, integritas seseorang lebih diutamakan ketimbang umur.

Ya, di bangku kuliah atau sekolah, umur berjalan begitu lambat, sedangkan di masyarakat, umur berjalan begitu cepat.

Kenapa ini bisa terjadi. kalau menurut saya, ya karena sekolah maupun perkuliahan itu sangat teratur. Dari satu tingkat, naik ke tingkat lain. Dari satu kuliah, beralih ke kuliah lain. Tahun ini, angkatan ini yang lulus. TAun besok, giliran yang ini. Betul2 bisa direncanakan. Tapi, tidak semudah itu dilakukan di masyarakat. Apa sudah ada kepastian, tiap tahun pasti naik jabatan? peningkatan gaji? Belum tentu kan? Yah, mungkin di kalangan PNS bisa lebih terprediksi. Tapi di kalangan profesi lain, siapa tahu?

Jadi, mengingat dan mempertimbangkan ini semua, saya sangat menghargai guyonan umur maupun angkatan di kalangan mahasiswa. Karena ini khas kami banget. Kelak, kalau kami sudah terjun ke masyarakat (amin..), orang mungkin tak terlalu peduli umur kami, namun kinerja kami lah yang dilihat.

Saya bukan tipikal orang yang sangat menyukai sesuatu, pun dengan kehidupan perkuliahan saya. saya menikmati aktivitas saya sebagai mahasiswa, namun saya tetap sering tanpa sadar meneliti kehidupan ‘orang dewasa’. Begitu berbeda dengan kehidupan mahasiswa yang idealis, spontan, namun tetap terkendali. Kadang saya bertanya lagi, sejauh apa kehidupan kuliah saya bisa mempengaruhi kehidupan sosial saya nanti jika telah terjun ke masyarakat.

Regards,

Mahasiswi yang beridealisme yang suka meledak2

22/10/2009 Posted by | uneg-uneg hidup | 2 Komentar

Who wants to be a president?

First, saya pingin ngucapin ” Selamat hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin”

emang agak telat ya..hehe. Tapi mudah2an gak mengurangi makna dan niat baik dari lubuk hati saya yang terdalam.

Well, setelah lama dah gak nge-post, tiba2 saya ingin membicarakan sesuatu yang lagi happening di negeri tercinta ini. Yup! pengangkatan H. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan H.Prof.Dr. Boediono (maaf jika ada kesalahan penulisan gelar di sini) sebagai presidan dan wakil presiden RI untuk masa bhakti 2009-2014.

Ya, mumpung lagi happening, mari sebagai warga negara yang peduli, kita bahas ini sedikit.

Jujur, saya tertarik sekali dengan pilpres kali ini. Kenapa? Karena ini adalah pilpres pertama yang saya ikuti. Yup! saya adalah pemilih pemula nan belia, yang 5 tahun lalu belum cukup umur buat nyoblos. Makanya, sambil berharap2 cemas dan kadang2 masa bodo’ saya yang sekarang berdomisili di luar kampung halaman di mana data kependudukan saya sepertinya belum dibuat, mulai mencari2 kans saya untuk mendapatkan hak sebagai warga negara untuk memberikan satu suara saya untuk jalannya kepemimpinan di negeri ini. Saya gak berharap banyak. Karena saya gak punya KTP daerah tempat saya nge-kost ini. Saya cuma punya satu KTP nasional yang bertuliskan alamta di Bukittinggi sono.

Namun untunglah, ketua RT saya yang baik berkenan menyempatkan diri menyambangi kostan saya dan mendat a saya dan teman2 sekosan yang lain. Jadailah saya diperbolehkan mencontreng di salah satu SD di dekat kost saya.hoho.

Nah, saya tak berniat membeberkan siapa kandidat presiden yang saya pilih, karena itu tak penting untuk sekarang. Karena apa pun pilihan saya saat itu, presiden dan wapres baru telah terpilih. Di sini saya merasa tertarik sekali dengan respon masyarakat yang beragam dalam menanggapi pengangkatan ini.

Saya tak bermaksud mendukung seseorang figur pemimpin secara khusus. Yang saya dukung adalah kepemimpinannya. dengan syarat kepemimpinan itu memiliki tendensi yang baik untuk memajukan bangsa ini. Dan sekarang kepemimpinan itu ada di pundak Bpk SBY dan Bpk Boediono.

Yang saya herankan di sini, kenapa banyak sekali demo atau komentar bernnada miring yang justru keluar setelah beliau2 dilantik? Maksud saya, bukankah keduanya menang mutlak, satu ronde dengan presentase 60% suara dari 2 pesaing lainnya. TIdakkah itu sinyal yang sangat gamblang dukungan dari masyarakat untuk memercayakan kepemimpinan kepada keduanya?

Oke, semua protes2 yang tak mengenakkan itu merupakan bagian dari kehidupan berdemokrasi bangsa. dan sebagai penanda bahwa bangsa kita telah pandai mengkritisi sesuatu. Nah, di sini letaknya. Cuma pandai mengkitikkah kita? Dan apakah demo dan protes begitu identiknya dengan demokrasi? Sebelumnya, coba kita berpikir terlebih dahulu. Namun sebelum saya memeaparkan beberapa hal, perlu dicatat, saya mempunyai sifat yang..ehm…jika diberikan suatu hal, lebih memikirkan kejeelekannya/kerugiannya dulu dibandingkan kebaikannya. Dan entah kenapa, banyak orang menerjemahkan itu sebagai sikap kritis, sedangkan menurut saya, itu hanayalah sebagai bawaan orok saya untuk selalu waspada terhadap segala sesuatu. Well, jadi jika saya memebeberkan pendapat posistif saya mengenai sesuatu, itu berarti sya memang menganggap itu baik, tanpa bermaksud menjilat ataupun mengambil hati siapa pun. Oke, saya harap maksud saya jelas sampai sini.

Nah, sebelumnya kita lihat dulu apa itu Indonesia? Indonesia, negeri indah yang dilewati garis khatulistiwa, dengan sumber daya alam melimpah, pulau2nya mencapai belasan ribu, penduduknya berjumlah 222 juta oran (2006), mempunyai keanekaragaman budaya dan adat, ribuan bahasa daerah, koleksi flora dan fauna yang melimpah. Segala pikran tentang surga dunia bisa ditemui di negeri yang mempunya sejarah panjang kerajaan2 lokal dan kuat ini. Namun, segala sesuatu bagai dua sisi mata uang. Indonesia, di balik semua keindahannya, mempunyai permasalahan di bidang pendidikan, sosial, hukum, ekonomi. Tentu saja tak ada satu pun negara di dunia ini yang terbebas dari hal-hal itu. Namun, kenapa ini menjadi masalah bagi Indonesia? Jawabannya karena kita begitu kaya dengan sumber daya alam, penduduk kita begitu banyak, hingga negara lain yang ingin menyerang akan berpikir jutaan kali emlihat orang2 pemberani yang akan mengornbankan tetes darah terakhir mereka hanya agar tidak dijajah lagi setelh kenyang hampir setengah milenium bangsa2 lain berusaha menguasai negeri ini selamanya. Karena Indonesia sangat religius dan demokratis di bidang agama. Dengan penduudk muslim terbanyak di dunia, sementara penganut agama lain bisa hidup tenang dan tenteram bersama penduduk muslim yang merupakan mayoritas. Sebuah fakta yang membuat baangsa ini dikagumi, bahkan oleh negara yang teraang2an membenci Islam.

Jadi di mana salahnya kita? Di mana salahnya bangsa ramah ini? Bangsa yang begitu terbuka menerima kunjungan orang asing. Bangsa yang penduduknya masih bisa bertahan di tengah krisis ekonomi global yang bahkan bisa membuat negara adidaya seperti AS sempat tertatih2?

Dan mata saya terbuka setelah beberpa waktu ini tertarik mengikuti perkembangan politik indonesia lewat berita. Begitu banyak kebusukan yang saya lihat. Bagai bunga kembang tak jadi, usaha2 untuk menghilangkan masalah2 yang selalu diteriakan masyarakat seperti korupsi, diganjal oleh kasus perselingkuhan murahan. Benar2 suatu alasan lemah untuk menyandung kprah bangsa ini. lalu, belum sikap politisi yang terlihat di luar batas. Yang tak bisa legowo lah, yang bertengkar di ruang sidang yang dibangun dengan uang rakyatlah, yang saling mencaci di televisilah. Saya mungkin masih kecil, tapi saya tahu, itu bukanlah sifat yang patut dilakukan oleh para putra-putri kebanggan Indonesia, yang dipercaya dan dipercayai amanah oleh rakyat Indonesia. Kalau begitu, kapan saatnya bangsa ini memulai, karena bahkan saat akan memulai pun, badai kuat sudah mulai menyerang.

Jadi, apa lagi harapan kita sejauh kemampuan kita sebagai manusia yang sangt terbatas ini untuk membangun bangsa yang luar biasa ini?

Kita butuh usaha. Kita butuh suatu organisasi kuat,rapi, bersih. Kita butuh seorang pemimpin. dasn pemimpin itu kita pilih LANGSUNG. terpilihlah seorang putra bangsa sebagai orang nomor satu di negeri ini serta pendampingnya. Lalu, dia bukan pilihan kita? well, setidaknya 70 juta orang, setengah lebih jumlah pemilih, sudah memilihnya. Dia menang mutlak. Dia punya kemampuan. Ia percaya dan beribadah kepada Tuhan. Latar pendidikannya bagus, mengagumkan malah, sejarah kepemimpinannya teruji, dia sudah berhasil membantu negara dalam kasus Timor Timur, keluarganya jelas dan beradab, kecintaannya pada negeri ini sudah jelas, dengan masa bahktinya di militer dan prestasi yang diraihnya. Bukannya saya ingin mengatakan calon lain tidak seperti itu. Tapi, calon terpilih kita seperti itu. Bukankah kita harus bersyukur. Bukankah ini yang Tuhan berikan pada kita. Inilah pemimpin kita!

Saya heran sekali mendengar ada golongan masyarakat yang menolak pengangkatan presiden dan wapres tempo hari lalu. Lucu sekali. Memangnya mereka tidak memikirkan fakta2 yang saya sebutkan di atas? Belum lagi dana yang dikucurkan untuk menyelenggarakan pelantikan itu. Belum lagi wakil2 negara sahabat yang khusus diundang untuk melihat prosesi 5 tahun sekali ini. Apa dengan demo penolakan saja bisa membuat pelantikan itu digagalkan? Buang2 napas aja menurut saya. Saya tak menertawakan aktivitas demo saudara2 setanah air saya itu. Saya cuma heran dengan materi demonya. Jika mereka ingin berdemo, just do it! Sepanjang tidak anarkis, go on! TApi, realitislah sedikit. Kenapa mereka tak mengangkat isu2 tentang janji kampanye saja. Janji kampanye yang memang diucapkan oleh pasangan presiden dan wapres terpilih. Justru itu banyak manfaatnya.

Lalu, yang membuat saya mendecak lagi, pembahasan tentang pemilihan menteri. Hak prerogatif presiden dan wakilnya. Banyak dari kalangan partai katanya? Nah, kenapa semua orang menjadi seperti pura2 lupa partai2 apa saja yang mendukung pemimpin kita hingga mendapat kemenangan seperti ini. Saya rasa itu wajar. Logikanya, anda tentu lebih memilih teman yang Anda kenal dan mendukung Anda untuk suatu pekerjaan kan? Kalau saya, sebodoh2nya saya melihat, presiden kita memang memprirotaskan suatu kedudukan menteri untuk partai pendukungnya. Tapi bukankah, keprofesionalitasan bermain di sini? Tak mungkin suatu jabatan diberikan begitu saja seperti memberi anak kecil permen. Pemimpin kita kan bisa berpikir kan? Dia beragama kan? Nah, itu lah yang saya katakan dengan berpikiran positif dan yakin. Bukannya malah seperti orang sirik, menganggap fit and proper test sebagai ajang pamer niat untuk memajukan bangsa ini.

LAlu tentang gaji presiden. fasilitaas yang didapatnya. Halooooo, itu wajar aja kali! beliau memimpin hampir seperempat milyar orang, right? Bahkan gaji seorang presiden sering lebih rendah dari gaji pejabat BUMN. Saya pribadi, dibandingkan mendapat uang begitu banyak, tapi akhirnya bertanggung jawab membawa beban mengurusi negara sebesar ini, membatnya maju, kitanya menjadi fokus dunia, incaran teroris, target cacian dan intrik sejuta umat. wow! ehm, lebih baik saya disuruh mengulang satu mata kuliah yang benar2 saya benci lagi  :p. No, thank you…Beside, i’m a girl huh? A girl isn’t expected to do such miracleous stuffs. Saya bukannya berniat menjadai simpatisan atau pendukung fanatik. Saya mendukung! Itu benar. Saya mendukung kepemerintahan yang sedang berlangsung di negeri ini. Saya mendukung usaha2  yang tengah dilakukan. Saya mendukung demokrasi yang bermartabat yang tengah berlangsung. Dan saya mendukung semua orang yang mendukung kemajuan negeri ini.

I love this country. Saya menghargai negeri yang begitu bermurah hati memberikan saya makanan utnuk dimakan, air untuk diminum, rumah untuk ditinggali, sekolah untuk saya mendapatkan ilmu, kekayaan alam yang membuat negeri ini begitu terkenal. saya sangat berterima kasih. Dan akan lebih berterima kasih jika saya diizinkan berkontribusi menyumbangkan buah pikiran saya untuk negeri ini. Bahkan meski lewat blog saya yang sederhana ini.

So, would you like to be a president? Start it from yourself.

Thank you.

regards,

mahasiswi yang sedang bingung menyelesaikan sisa sksnya dan tambah bingung melihat dunia perpolitikan yang sangat digemari ibundanya.

21/10/2009 Posted by | Happening | 2 Komentar

Jakarta…

Hari ini, mungkin jadi hari terakhir saya KP di perusahaan ini (Indoavis). Tapi belum tentu juga, karena besok iA saya bimbingan lagi sama dosen saya. Saat itulah akan ditentukan apakah KP di lapangan dicukupi saja untuk selanjutnya diteruskan lagi di kampus, atau saya masih harus melanjutkan satu minggu lagi.

Nah, saya pun jadi teringat lagi bagaimana hari pertama saya KP di sini. pada hari pertama itu, saya diantar oleh tante saya dari kediaman kami di bilangan Cimanggis (dekat Cibubur). Waktu itu saya benar2 santai seiring laju mobil yang membelah jalan tol Cawang UKI dan belok kiri, langsung menuju Bandara Halim. Pulangnya, tidak ingin menyusahkan tante saya lebih jauh lagi, akhirnya saya berusaha pulang sendiri.

Saya tak berniat mengambil rute saat saya ke sini tadi pagi, karena tidak compatible untuk jalur angkot (lewat jalan tol soalnya). karena itu, saya dan teman saya berniat ambil jalur Cililitan-kampung rambutan-Cimanggis. Saya hitung2, itu saya bisa berganti angkot hingga 3 kali. Tapi saya tak keberatan. Maklumlah, orang baru. Jadi masih coba2.

Untuk angkot pertama, saya cukup PD, karena hanya ada satu jenis angkot yang melalui airport, yaitu Trans Halim. Angkot ini tidak beda dengan angkot lain, hanya saja warnanya perpaduan biru muda dan biru tua dan semua supirnya memakai seragam. Awalnya, saya berekspetasi lebih terhadap Trans Halim ini. Menurut saya pelayanannya pasti lebih bagus dari angkot biasa, yanh sekelas Trans Jakarta gitu lah. Namun, sepertinya saya boleh kecewa, karena kenyamanan Trans Halim tidak beda dengan angkot khas Jkt lainnya, dan kesopannan dari pengemudinya pun tidak lebih baik. Tapi, karena sudah biasa menghadapi kecuekan sopir angkot (pengalaman pribadi karena tak punya kendaraan pribadi ^^) bahkan sesekali adu urat dengan sopir2 itu, jadi saya cuek saja. Saya tahu kehidupan Jkt tidak seperti di bdg ataupun Bukittinggi.

Tapi, ini dia yang membuat darah saya mendidih. jadi, setelah turun dari trans halim di simpang PGC, saya bertanya kepada sopirnya, berusaha sesopan mungkin. ” Pak, angkot ke rambutan nomor berapa ya?”. Dengan raut yang tak ramah apalagi perduli, dia menjawab, “Itu angkot 02″. Saya pun mengucapkan terima kasih dan berjalan mencari Ankot 02. Saya meberhentikan angkot 02 itu. Saya merasa tidak enak karena ternyata si angkot ini berhenti di tengah jalan alih2 menepi ke tepi. Klakson dari mobil lain pun menjerit2 melihat angkot itu makin membuat macet ruas jalan yang sempit karena banyak lapak kaki lima nya.

Saya pun melesat memasuki angkot itu, sambil sebelumnya bertanya. “Pak, kampung rambutan?”

Si sopir mengangguk tak acuh. Lagi. Lau saya pun naik. Setelah 5 menit mobil itu berjalan menembus kemacetan kramat jati yang naujibilah, si sopir berkata. “Ntar nyambung ke kampung rambutan,ya?”

Aku ternganga. Taadi jelas2 si sopir bilang trayek angkotnya ini ke kampung rambutan. Aku geram dan bertanya pada seorang mbak di depanku.

“Misi, mbak. Ada yang langsung ke kampung rambutan gak dari sini?”

Si mbak jawab, “Ada 03.”

Aku ternganga lagi. Jadi apa maksud sopir Trans tadi bilang aku harus naik angkot 02? Okelah, mungkin dia khilaf. Tapi si sopir angkot 02, dia kan bisa meberitahuku angkot apa yang langsung ke kampung rambutan atau setidaknya menggeleng saja. Di hari2 berikutnya saya tahu banyak bis umum juga yang langsung menuju rambutan.

“emang mau ke mana,mbak?” cewek tadi balik bertanya pada saya.

“Cimanggis, mbak.”

“Oh,itu mah gak usah ke kampung rambutan. Mbak naik aja 06 yang warna biru, beerhenti di cijantung terus naik angkot jurusan Cibinong. kalau ke kampung rambutan mah muter.”

Tak berapa lama saya turun setelah mengucapkan terima kasih pada si mbak.

Sialnya, saya turun di jalur macet Kramat jati. Mobil2 dan motor memenuhi jalan seperti sarden memenuhi kaleng. hampir tak ada celah sedikitpun untuk berjalan. Dengan susah payah dan entah bagaimana caranya, saya berhasil menaiki 06 dengan selamat meski angkot itu ada di seberang sana. Oke, saat itu, saya tak ada bedanya dengan pejalan kaki yang sembrono. Tapi apa boleh buat. Saya masih takut untuk pulang malam di kota ini. Lepas dari kramat jati, lalulintas sudah mulai lancar. tapi apa perjalanan makin nyaman?

Jawabannya tidak.

Seperti balas dendam, sopir2 angkot itu malah ugal2an di jalanan. Salip sana salip sini. Belum pengendara motor yang kepedean meliak-liuk di celah sempit anttara 2 mobil yang melaju kencang. Pejalan kaki juga tidak membantu, tiba2 saja menyebrang jalan dengan cepat tak perduli arus kendaraan yang kencang.

Aku melihat semua itu, dan berpikir, luar biasa sekali mental orang Indonesia ini. Aku sendiri tak yakin apa pengendara sekelas Rossi ataupun Schumi berani bermanuver ria layaknya pengendara motor dan angkot seperti di jkt ini. Aku sering meringis ngeri melihat badan angkot yang kutumpangi tidak lebih dari sekian centi dengan mobil di sebelahnnya. Ataupun tanpa aba2 apa pun sebuah motor yang entah bagaimana caranya menyalip di depan angkotku dan menukik pergi. Luar biasa!

Untuk pejalan kaki, kemarin saja saya lihat mereka dengan angkuhnya berjalan di TENGAH jalan raya besar dan di belakang mereka bis kopaja masih tetap berjalan, seperti membuntuti mereka. Ya, Tuhan, jadi untuk apa dibuat PINGGIR  jalan? Dan trotoar itu? Wuaduh….

Hari2 berikutnya aku yang masih setia dengan angkot, sering melihat Bus Way dari jendela angkot yang saya tumpangi.  Di dalamnya, saya liha para penumpang juga berdesak2an. Saya tersenyum melihatnya. yah, walaupun berdesakan, toh angkutan umum yang satu ini teratur, bersih dan murah. Saya berpaling melihat sopirnya. Subhanallah, seorang wanita muda berjilbab. Air mukanya tampak tegang berusaha mengendalikan bisa gandeng itu melewati jalanan jkt yang super macet. lalu kernetnya yang berpakaian seragam rapi juga. Kebanyakan dari mereka ramah menghadapi penumpang yang berjubel. lalu erlintas huruf BBG di badan bis itu. Bahan Bakar GAs. Sungguh ramah lingkungan.

lalu saya kembali menghela napas melihat angkot yang saya tumpangi. sesekali angkot ini berdecit2 berhenti membuat penumpangnya terlempar ke depan. Aku tak menyangkal, angkot seperti ini sangat berguna.  Trans Jkt belum memenuhi seluruh trayek di jkt. Saat itulah si jagoan kecil ini akan mengantar kami ke tempat tujuan kami sebenarnya.  Tapi, saya melihat lagi ke luar jendela, banyak sekali angkot yang kosong atau berpenumpang sedikit sekali. Semakin banyak wwarga jkt yang memakia kendaraan pribadi seperti motor ataupun mobil. Siapa yang bilang kita negara miskin. Lihat saja mobil2 pribadi nan mewah yang berjejer rapat di jalan2 tol.

Lalu saya lihat lagi Trans JKt. Penumpang di dalamnya jelas sekali berdesak2an.  Angkutan itu memang jadi faforit. Saya pun niscaya akan menggunakan bus cantik itu jika saja ada shelter bis yang dekat dengan kediaman tante saya.

jaman memang telah berubah. Teknologi menawarkan semua mimpi yang dipunyai manusia. Kenyamanan tak lagi semahal dulu.  Angkot2 yang dulunya jantung transportasi, jadi terpinggirkan oleh kredit motor dan mobil yang makin lama makin terjangkau. belum lagi proyek pemda untuk menyamankan tranportasi di jkt. Salah satunya, ya dengan Trans Jkt ini.

Aku membayangkan, bagaimana seandainya trans jkt ditambah armadanya, lalu angkot sedikit2 dikurangi. para sopirnya ditraining untuk menjadi sopir Trans Jkt, mengingat armada Trans jkt sudah ditambah. Lagi pula menurutku, 2 kernet di trans jkt belum cukup untuk menertibakan penumpang yang berjubel2 di dalam bis itu. Kalaupun angkot masih diperlukan, itu hanya di jalan2 kecil yang tak bisa ditembus Trans Jkt, bukan di jalan2 besar dan protokol seperti serang ini. Warga negara kita memang sangat banyak, mencapai ratusan juta jiwa. tapi, masa itu yang menjadikan kita susah majau? Bagaimana dengan AS? China? mereka bisa berbuat kok, dengan warga negara yang jumlahnya melebihi Indonesia. jadi, di mana salahnya kita selama ini?

Mental. Ya itu jawabannya. Mungkin mental saya atau warga negara lain yang belum siap untuk membudayakan tertib berkendara. Mungkin 64 tahun belumlah waktu yang cukup untuk menggodok bangsa besar ini. Kita masih ingin memakai kendaraan priibadi alih menggunakan kendaraan umum berbahan bakar gas. Mungkin kita belum berani merubah peraturan2 yang ada karena takut dengan perubahan. Kita mungkin masih ttakut dengan “Trial and Error”. Kita masih ragu dan takut untuk maju.

Bukannya saya terlalu shock dengan kehidupan Jkt. Memang saya menghabiskan masa remaja di bukittinggi dan masa kuliah di Bandung. Namun saya lahir dan besar selama 11 tahun di jkt. Bedanya, sekarang saya lebih berpikir dibandingkan dulu. Jkt memang kota semrawut dan sedang mengalami penurunan tanah. Tapi, saya masih merasakan kaitan erat dengan kota kelahiran saya ini. Kota tempat saya pernah tertawa polos khas anak kecil, kota tempat saya sering bercengkrama dengan keluarga besar, kota tempat orang2 terkasih saya (kakek dan nenek) dimakamkan. Kota tempat tinggal para om, tante, dan sepupu saya.

Saya tidak berniat menghakimi kota ini. Apalah saya. Hidup di sini pun masih menumpang. Itu hanya pemikiran saya saja. Apakah belum cukup pulau2 terluar kita terabaikan, bahkan ibukota negara ini sendiri pun belum bisa disebut nyaman?

Saya peduli,saya berpikir, saya menulis.

Seumur ini, masih itu yang bisa saya perbuat, selain tetap berusaha melakukan segala sesuatu mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

21/08/2009 Posted by | uneg-uneg hidup | Tinggalkan sebuah Komentar

Bulan Ramadhan tiba! marhaban ya Ramadhan…

Fokhar

Mohon maaf lahir batin.

Mudah2an ssemua ibadah kita di bulan puasa ini diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT.

Semoga bulan puasa kali ini menjadikan kita semua pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Amin….

21/08/2009 Posted by | Our holy days | Tinggalkan sebuah Komentar

..more than just a game for two…

Mungkin pembaca sekalian sudah banyak yang tau quote yang saya ambil sebagai judul postingan di atas.

Yup, itu saya ambil dari lirik lagu “L-O-V-E” yang sudah direpack oleh berbagai penyanyi terkenal. dan terakhir kali saya dengar adalah versi Tompi.

dari awal, saya udah tertarik dengan lirik lagu gaek ini. Apalagi bagian lirik yang saya kutip ini. Dan, saya setuju sekali. Cinta bukan hanya untuk 2 orang apalagi seorang saja. Cinta berpengaruh bagi semua orang yang merasakannya, baik yang menginginkannya atau tidak.

Apalagi, cinta itu sebenarnya adalah hak prerogativ (sori kalau salah tulisan..-_-) yang Di Atas, Sang Khalik pencipta segala sesuatu di muka bumi ini.

Jadi, bagaimana kita bisa mendeclare bahwa cinta itu hanya untuk 2 orang insan biasa saja, sementara kekuasaan tertinggi ada padaNya.

Contohnya saja lagu ini. Entah apa yang ada di dalam pikiran pengarang lagu ini ketika ia sedang menciptakan dan mengaransir lagu ini. Mungkin yang terbayang di benaknya adalah “sang kekasih hati”. Mungkin saat itu ia benar2 merasa dunia ini hanya ada dia dan si dia, yang lain cuma ngontrak :p.

tapi, tahu gak ya, si pengarang lagu ini, bahwa berpuluh2 tahun kemudian (karena Frank Sinatra juga sempat menyanyikannya), dua orang cewek yang sedang kelelahan sehabis KP, iseng2 mendengarkan lagu ini dari hape, dan ikut merasakan makna dari lagu ini? dan akhirnya mereka berdua malah cekikikan, mengingat cerita2 cinta masing2 (meski cerita itu udah dari jaman baheula) dan kembali cekakak cekikik sambil berusaha menyenandungkan lirik lagu ini dengan bahasa inggris dan suara yang pas2an…hehe…

Nah, itu aja, udah membuktikan, cinta itu tak hanya untuk berdua. Cinta bukanlah sesuatu yang cukup untuk ditanggung oleh hanya 2 hati manusia. karena itu, cinta harus disebarkan, karena banyak yang membutuhkannya. tapi tentu saja dengan cara yang tepat, karena cinta bagai dua sisi mata pedang, bisa berguna, bisa membahayakan.

saya gak akan heran, kalau ada teman saya atau siapa pun yang bertanya, ” Lagi jatuh cinta, mut? nge-post kayak gini?”

Wah, menurut saya itu pertanyaan kedua tersulit setelah pertanyaan: Apa arti hakiki kehidupan ini?

Anyway, entah kenapa, saya hanya sedang mencoba menghargai cinta, di saat sekarang, saat saya melihat begitu susahnya cinta itu didefinisikan oleh anak-cucu Adam.

20/08/2009 Posted by | uneg-uneg hidup | Tinggalkan sebuah Komentar

Arti Sebuah Kebosanan

Bosan, adalah sebuah kata yang menurut saya sangat akrab dengan kehidupan manusia. Saya rasa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak pernah merasakan bosan, bahkan untuk hal yang sangat mereka sukai.

Mungkin banyak orang berpendapat, bosan itu bernada negatif. Dan memang, Tapi bukankah tak semua yang negatif itu berarti hal yang tidak baik. Seperti layaknya dua sisi mata uang, semua yang ada di dunia ini punya hal yang menguntungkan dan hal yang merugikan. Ini semua selaras dengan hukum keserasian yang belakangan ini selalu digembar-gemborkan dalam berbagai makna.

Nah, bosan. Kalau memakai saya sebagai contoh kasusnya, ada alasan kenapa saya membahas hal yang satu ini. Ini bermula dari kegiatan perkuliahan yang sedang saya jalani sekarang. Kebetulan, saya sedang melakukan Kerja Praktek (KP) yang di jurusan saya dikenakan kredit sebanyak 3 SKS. Sedikit memang, tapi pengorbanannya serasa 24 SKS, belum lagi masalah2 lain yang ikut belakangan.

Memasuki minggu ke-3 saya melakukan KP di sebuah perusahaan geoinformatika penerbangan di kawasan Jakarta Timur ini, saya merasakan kebosanan lagi. kebosanan seperti ini sering kali saya rasakan ketika mengikuti perkuliahan saya di Bandung. Lain hal saya juga suka bosan dengan aktivitas kemahasiswaan saya. Saya memang pembosan. Namun, setelah sekian lama dilanda bosan terhadap ini itu, saya berkesimpulan, bahwa dampak kebosanan itu berbeda untuk masing-masing halnya.

Ini nih analisis saya…^^:

1. Bosan di perkuliahan

Biasanya ini terjadi justru saat saya merasa tidak ada pekerjaan berarti yang saya lakukan, atau ada sebuah permasalahan menyangkut dan saya tidak mau berusaha memecahkannya. Nah saat itulah saya merasa hampa dan akhirnya nilai saya yang hancur. kebosanan seperti ini biasanya saya atasi dengan menabahkan diri (cie…) belajar materi yang saya benci. Walaupun susah banget materi yang berusaha saya pelajari, ternyata itu mampu memicu adrenalin saya. lalu hilanglah kebosanan saya dalam perkuliahan. Efek akhirnya…nilai saya pun bertambah..^^

2. Bosan di kemahasiswaan

Berbeda dengan kebosanan di perkuliahan, rasa bosan saya di sebuah keorganisasian biasanya muncul saat saya sudah bekerja keras dan hasil yang saya dapat tetap mengecewakan. kemudian saya merasa tidak ada lagi yang bisa saya perbuat, sehingga saya menjadi bosan dan pasrah. Biasanya, alhamdulillah, saat itulah pertolongan Allah datang. Saya diberi kemudahan dari arah yang tidak saya duga awalnya. Saat melihat jalan terang itulah, semangat saya bangkit dan kebosanan saya terhadap hal tersebut hilang.

3. Bosan di keluarga

Hehe, ini terutama terjadi saat saya masih di bangku2 sekolah dulu. Kalau sekarang, karena saya hidup terpisah dengan orang tua karena harus kuliah di Bandung ini, saya sangat menghargai keberadaan keluarga. Tapi dulu, 24 jam bersama keluarga inti, ditambah segala intrik anak-orangtua serta adik-kakak, membuat kepala saya serasa mau pecah. Namun untunglah keluarga saya sangat menghargai privasi saya dan membiarkan saya menyendiri di kamar (mengunci diri di kamar tepatnya) saat kebosanan itu melanda. Stelah itu, kami bisa berkomunikasi dengan baik lagi dan saat itulah keharmonisan saya dengan ortu dan adik saya terjalin kembali. Seperti di-recharge gitu lah…^^

4. Bosan pada teman

Nah, ini nih yang paling sering mengganggu saya. saya memang punya kecendrungan lebih suka sendiri dibandingkan harus ada di lingkungan ramai yang tidak sreg dengan hati saya. Dan kalau rasa bosan saya terhadap teman2 tercinta sudah muncul, biasanya saya tetap berusaha tersenyum agar mereka tidak tersinggung dan seceatnya kabur dari TKP! Saya sadar sih, teman saya pun bisa merasakan hal yang sama terhadap saya. kalau sudah seperti itu, saya langsung tahu gelagat mereka, karena tidak mungkin teman saya itu mengatakan secara blak2an,kan? Dan tindakan saya mungkin berusaha menyingkir perlahan2 dari teman saya itu.

5. Bosan pada benda2 (film, musik, makanan, dll)

Nah, ini paling jarang terjadi sama saya. tapi sekali terjadi, wah, bisa2 tidak saya sentuh lagi semua yang dulunya saya sukai itu. Dalam hal ini saya memang kuno. Ssaya mempunyai selera sendiri dan bisa sangat lama hingga saya berpaling ke benda lain, bahkan mungkin tidak pernah. Saya sendiri sih menganggap ini sebagai keuntungan, karena saya tidak menjadi korban mode atau apa pun yang membuat saya tukar-tambah atau membeli barang yang mubazir.

6. Bosan beraktivitas.

Ini kata lainnya mungkin capek, kali ya?hehe. kalau sudah seperti ini, biasanya saya mengistirahatkan diri. Tidur of course, aktivitas yang kompak dilakukan oleh orang2 di kampus saya yang terbiasa diperas otak dan tenanganya oleh aktivitas perkuliahan atau hal lain.

Nah, itu beberapa kebosanan versi saya.

kenapa saya menulis postingan kayak gini. jelas karena saya sedang bosan. haha. Alasan lain, karena saya sedang berusaha mengambil hikmah dari kebosanan itu sendiri. kenapa Tuhan memberikan hal menyebalkan ini kepada makhlukNya. Nah, akhirnya setelah menganalisis sendiri, saya ambil kesimpulan sendiri. Kebosanan, dalam kadar yang pas,  penting untuk menghargai apa saja yantg telah kita punyai. Kebosanan juga membuat kita mau berusaha untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Misalnya dengan bosan dapat nilai jelek karena bosan kuliah, ya akhirnya belajar, kan? Bosan juga membuat kita belajar bertoleransi dan menghargai privasi orang lain. Bosan juga membuat kita sadar, bahwa bahwasanya kekuatan kita sebagai manusia itu sangat terbatas. Namun, tentu saja untuk menyadari semua itu, tidak cukup bermodalkan 5 huruf itu. Ada intuisi di dalamnya, ada naluri, pemikiran, kemanusiaan, banyak hal lain.  Tinggal manusia macam apakah kita sehingga mampu meramu semua bumbu2 yang diberikan oleh Tuhan itu hingga akhirnya kita menjadi pribadi yang lebih baik?

Satu hal yang selalu saya yakini dari arti sebuah kebosanan, bahwa itu tandanya: Saya sudah melakukan sesuatu…

20/08/2009 Posted by | uneg-uneg hidup | 3 Komentar

nge-blog yuk…

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamuualaikum para blog walker semua..

Salam sejahtera!

Pertama2 ehm, pingin ngenalin diri dulu deh.

Nama saya Mutiara Yunazwardi. Bisa dipanggil Mutiara atau Muti, but some people call me Cimuik ^^.

Sekarang lagi kuliah di Geodesi ITB semester 6, alias angkatan 2006.

Somehow, lagi deg2an banget nunggu sesuatu. What’s that? that’s just another story. Maybe next time, saat kepala saya gak pusing lagi mikirin satu hal itu. Yang jelas, itu berhubungan banget dengan kuliah saya, masa depan saya, dan kebahagiaan kedua orang tua saya.

Tentang blog…sebenernya udah lama bikin blog…Udah hampir setaun yang lalu sih… tapi yang namanya gaptek ya…adaaaaaaaaaaa aja masalahnya.

Mulai dari lupa username lah, lupa passwordlah, sampai gak becus ngereset password sendiri. Wha, parahlah!

Dan tiba2…seperti dapet hidayah dan rezeki nomplok, unit yang saya ikuti di ITB ini, Unit Kesenian Minangkabau (UKM), ngadain pelatihan ICT (Information and Communication Technology), which is ngajarin kita gimana ngajarin kita bikin website, baik dengan menggunakan joomla atau blog site kayak gini…

Hasilnya, lumayanlah ya… konkritnya, blog saya aktif lagi. Cihuyyy!!!

Well, that’s what students communities are for. Membuat kita menambah keahlian dan link for free!

Jadi gak nyesel nyediain 20 sks buat kemahasiswaan.hehe…(becanda ding, lebai ya?!)^^

22/02/2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.